Petualangan Pilik dan Alit
Namanya Pilik
seorang anak laki-laki berasal dari kampung pedalaman yang sangat jauh dari
keramaian kota. Dan sahabat setianya Alit, dia bertubuh kecil namun dia sangat
pemberani dan berjiwa patriot layaknya seorang pahlawan revormasi. Mereka
begitu akrab seperti kakak adik yang mengabiskan waktu bersama.
Suatu ketika pilik memikirkan
suatu hal yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia memikirkan dimana suatu
tempat yang begitu ramai penuh dengan orang-orang yang sibuk berlalu lalang
seperti bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Dari kejauhan terlihat Alit
berlari sembari berteriak menemui Pilik yang sedang melamun.
“Hoiii....Pilik, kemana saja kau
ini?”alit yang datang sambil menepuk punggung pilik
“Hey kau pelankan suaramu itu,
telingaku tidak tuli masih normal ini telinga. Lagian ada apa kau cari-cari
aku?”cletuk pilik dengan emosi
“Ampun, tak bermaksud aku seperti
itu. Aku kemari begini, aku punya rencana buat petualangan kita.”
“Apa rencanamu itu?”
“Ayo kita pergi ke kota!” dengan
suara lantang alit menyebutkan dan tersenyum lebar
“Kota? Tempat macam apa itu?
Belum pernah aku dengar nama kota, apa disana banyak kera, burung atau air terjun?” pilik yang semakin
penasaran, dia merangkul alit untuk segera bercerita
“Ah bukan seperti itu”
“Oh ya sekarang aku tau.... pasti
laut dengan ikan yang indah kan?” jarinya sambil menunjuk ke suatu arah
“Bukan juga seperti itu, Ah kau
ini. Apa kau belum tau apa itu kota?” dengan menghela nafas ia menggelengkan
kepala
“Beeeh, baru dengar saja dari kau
, mana ku tau tentang kota itu?” tanya-nya
“Kota itu tempat yang banyak
cahaya di malam hari, orang-orang berkumpul disana, dan juga kau bisa makan
enak disana”
“Adakah tempat seperti itu?”
“Ya ada lah, gimana kau ini”
“OK.. besok kita jalan kaki ke
kota” dengan semangat pilik berdiri
“Gila saja kau, jalan kaki dari
sini ke kota butuh waktu tujuh hari. Matilah dijalan kita sebelum sampai
kesana” cletuknya
“lalu bagaimana kita kesana?”
“naik mobil angkut sayur.
Pagi-pagi sekali kita nyusup ke mobil itu. Aku yakin pasti mobil itu pergi ke
kota”
“kau yakin?” pilik ragu dengan
jawaban alit
“percayalah” ia menegaskan kepada
pilik
Sepanjang malam pilik hanya bisa
membayangkan tempat yang barnama kota, ia pun membayangkan jika kota itu adalah
tempat yang ia pikirkan seharian ini. Ia berharap dapat melihat indahnya cahaya
malam seperti yang dikatakan alit.
Pagi hari itu pilik dan alit
bergegas menuju pasar dekat rumahnya untuk malaksanakan rencana aksinya. Tiba
di pasar alit yang saat itu sedang mengawasi mobil sayur tiba-tiba pilik
menepuk punggung alit.
“Al.. apa kau yakin rencana kita
bakal berhasil?”
“Hmm... 99 persen aku yakin pil,
sisanya kau tanggung sendiri yah”
“Tega kau”
“Mana ada rencana berhasil total
pil... pasti ada kasatkusutnya”
“Baiklah.. kalau kau yakin ini
bakal berjalan baik”
Alit mulai memberikan kode kepada
pilik untuk segera masuk ke dalam bak mobil sayur, mereka berlari pelan dan
tetap untuk diam. Alit membuka penutup bak mobil sayur itu kemudian ia langsung
menyuruh pilik untuk menaikinya terlebih dahulu.
“Apa?”
“Cepat kau naik?”
“Kenapa aku dulu, kau dulu saja
lah”
“Cepat keburu si supir itu
melihat kita!”
Pilik mau tak mau harus menaiki
mobil bak sayur itu, sedangkan alit tetap mengawasi si supir agar tidak melihat
aksi mereka. Setelah pilik berhasil naik ke bak mobil sayur itu, alit menyusul
untuk menyusup ke bak mobil dan menutupnya.
“Kita berhasil!”pilik bergumam
“Yap, rencana ku selalu berhasil
dan rencana kita belum selesai!”alit menegaskan
“Rencana yang mana lagi?”
“Rencana untuk menelusuri kota,
kau mau melihat kota kan?”
“Hmmm... aku mau, tapi .....”
“Sudahlah kau bakal aman
denganku, kita sama-sama menjelajah kota dan melihat indahnya kota dimalam hari”
“Baiklah”
Sesampainya di kota mereka mulai
melangkahkan kaki, tanpa sepeserpun uang yang mereka bawa hanya bermodalkan
nekat serta kerberanian yang mereka punya. Mereka mulai tercengang melihat
kemegahan suatu kota yang ditata sedemikian bagus dan merasakan suasana kota.
“Pilik lihatlah sekelilingmu, ini
lah yang namanya kota”
“Kenapa kau tak kasih tau aku
kalau kota banyak rumah-rumah bertingkat, berbentuk kotak-kotak. Ini menarik
untuk kita telusuri al”
“Ayolah kita cari makan dulu
sebelum menelusuri kota”
“Makan dimana kita pil? Kau punya
uang untuk beli makanan?”
“Astaga kenapa kita pergi ke kota
tanpa bawa apa-apa?”
“Lalu mau bagaimana lagi kita?”
“Aku tak tau harus bagaimana”
“Minta ke saudara kita saja”
“Saudara siapa? Kau punya saudara
kah disini? Terselamatkanlah kita”
“Ya orang-orang ini saudara kita!”
“Sadarlah kau pil, ini bukan
tempat kita. Mana mereka mau kasih kita makanan”
Mereka berpikir bahwa mereka
tidak akan menyerah hanya karena makanan. Mereka melihat para pengamen kota
mendapatkan uang dari orang-orang, dari situ menjadikan alit mempunyai ide
kalau mereka harus mengamen untuk mendapatkan uang. Mereka membuat alat yang
menghasilkan bunyi untuk mereka mainkan, selama itu mereka mengamen di pinggir
jalan dan mendapatkan uang. Kini mereka bisa membeli makanan dengan uang hasil mengamen mereka.
Malam hari mereka melihat
lampu-lampu kota yang bersinar, menerangi sudut jalan. Mereka menaiki sebuah
gedung bertingkat dan melihat keindahan kota.
“Jadi ini, cahaya malam hari di
kota?”pikirnya
“Cahaya lampu yang menerangi
setiap jalan, rumah, dan tempat-tempat”pikirnya lagi
“Hey kau melamun saja, bagaimana?
Kota indahkan?”
“Yap indah seperti bayanganku
banyak orang-orang”
“Yaudah bersiaplah kau tidur,
besok kita balik ke rumah”
“Ok”
Keesokan harinya mereka bergegas
untuk pulang ke rumah mereka tetapi hal yang tidak ingin terjadi, mereka
kehilangan mobil pengangkut sayur yang menuju rumah mereka .
“Bagaimana sekarang kita bisa
pulang?” ini salah kau, andai aku tak ikut kau al”
“Hey kenapa kau salahkan aku? Ini
bukan masalah kau dan aku. Kita disini sama-sama terjebak tak bisa pulang”
“Ya terjebak di tempat yang baru
saja saya tau dan tempat aneh ini”
“Bukankah kau juga ingin ke
tempat ini? Janganlah kau salahkan aku seperti ini, coba salahkanlah dirimu”
“Aku ingin pulang dan bagaimana
caranya aku ingin pergi dari tempat ini”
“Yasudah sana lah kau pulang”
“Baik, aku jalan kaki dari sini”
“Hey kau tak seriuskan? Jalan
kaki dan kau sampai rumah sepekan kemudian”
“Ya aku tak serius. Bila ada kau,
aku tak pernah serius”
“Ah kau ini, maafkanlah aku”
“Maaf saja tak cukup untuk ku.
Aku ingin pulang!”
“Aku juga ingin pulang, pikirkan
lah bersama cara kita bisa pulang”
Mereka kini hanya bisa berpikir
cara untuk kembali pulang. Mereka pun berharap ada sebuah pertolongan untuk
mereka, pertolongan yang membawa mereka dapat kembali pulang.
Saat mereka berdua sedang
berpikir ada sebuah mobil tua yang mendekati mereka, kaca jendela mobil itu
perlahan membuka terlihatlah wajah tua dengan senyuman.
“Hey nak, tadi aku lihat kalian
berdua bertengkar seperti kucing dan tikus ribut terus. Ada apa nak?” seorang
kakek bertanya
“Maaf kek kami bertengkar karena
kami kehilangan mobil pengangkut sayur yang menuju ke rumah kami, tanpa mobil
itu kami tak bisa pulang ke rumah”Alit menjawab
“Dimana rumah kalian nak?”tanya
kakek
“Entahlah kami tak pernah tau
nama tempat rumah kami”cletuk pilik
“Jadi kalian pergi ke sini untuk
apa?”
“Kami sebenarnya ingin tahu yang
namanya kota kek, kami menyelinap ke mobil pengangkut sayur tujuan kota tapi
sekarang kami bingung untuk balik ke
rumah”Alit menjelaskan rencana awal mereka
“Baiklah kalau begitu naik ke
mobil ku nak, kita cari rumah kalian”ujar kakek
“Terimakasih kek!”alit dan pilik
trlihat senang dan menghela nafas
“Sungguh baik sekali kakek ini”pilik
bertutur
“Ya..ya.. kakek hanya kebetulan
lewat”
Mereka pun menaiki mobil milik kakek
itu untuk kembali pulang dengan mengingat-ngingat jalan yang mereka tempuh
untuk pergi ke kota
Saat di sebuah belokan jalan
mereka mulai menegnali tempat itu, mereka mulai tau jika mereka sudah dekat
dengan rumah mereka. Alhasil mereka sampai di rumah dengan selamat berkat
pertolongan kakek yang baik hati.











.png)